Rabu, Oktober 29, 2008

Sahabat


Terkadang manusia berjalan sendiri
Tanpa arah, tanpa cahaya
Dan terlingkupi oleh sebuah rasa bernama gundah gulana

Sejak itulah kekosongan bathin lirih meminta pertolongan
Di saat kita sendiri dalam kesenyapan
Kita membutuhkan sosok

Dan sosok itu adalah Sahabat

Tidak ada yang pernah bisa menggantikan kehadiran tujuh hurup ini di kala kita susah senang dan bahagia
Entah sudah berapa banyak warna yang ditoreh oleh tujuh hurup ini di dalam hati kami
Merah, Biru, Jingga, Kuning seolah menjadi gambaran betapa indahnya pelangi yang bersinar di kala hujan kesedihan menghujam kami

Sahabat
Tidak ada kata yang bisa diungkapkan dalam sebuah novel, memoar bahkan memoar
Karena terlalu sulit menggambarkan betapa berharganya dirimu

Sahabat
Kau terlahir untuk melengkapi hari
Dimana kami bisa tertawa bersama
Menangis bersama
Merenung bersama

Sahabat
Sungguh kami tidak berarti tanpamu
Sungguh semua akan berjalan di tempat tanpa doronganmu untuk bisa seperti ini
Engkau bagai bara api yang selalu membakar perjuangan kami menjalani hidup

Sahabat
Dirimu adalah inspirasi tiada henti
Semangatmu adalah pelajaran bagi kami
Dan langkahmu adalah renungan bagi kami

Sahabat
Perjalanan hidup sungguhlah panjang
Setiap hidup adalah awalan
Dan setiap kematian adalah akhiran
Maka jadikan hari ini awalan terbaik
Untuk menggapai mimpi dan melawan asa yang tak pasti

Aku akan selalu mendukung
Selalu, hingga semua berakhir

Minggu, Oktober 26, 2008

Grup Penulis Pertama di Indonesia


Baru-baru ini saya diajak bergabung untuk membuat sebuah grup. Bukan grup band, grup vokal apalagi grup pelawak. Namun saya diajak bergabung dengan grup penulis.
Fiuh saya sempat berpikir lama menerima ajakan ini, namun setelah saya pikir berulang-ulang. Ide ini bagus sekali, karena di Indonesia saat ini berlum pernah ada grup penulis. Dunia penulisan sepertinya hanya bermunculan pemain solo dan untuk pemain grup boleh dibilang tidak ada.

Dahulu ada mungkin kita mengenal Hilman dan Boim yang biasa menulis novel remaja seperti Lupus dan Olga. Namun ini tidak bisa dikatakan grup secara menulis, karena mereka hanyalah dua orang yang bergumpul dan lebih menonjolkan nama masing-masing. Begitupun Beni dan Mice yang sebenarnya tidak bisa dibilang sebagai penulis, karena pada dasarnya mereka memang kartunis, jadi tidak bisa dibilang grup penulis.

Jadi seperti apa grup penulis sebenarnya? Sebenarnya grup penulis adalah sekumpulan orang yang membentuk sebuah kelompok tanpa menonjolkan masing-masing penulis. Sebagai contoh Asma Nadia, dkk. Mereka tidak bisa dibilang grup penulis, karena koalisinya hanyalah sebuah proyek sesaat dan semata saja.

Bayangan saya grup penulis adalah sebuah grup layaknya grup musik yang memiliki manajer yang mengatur jadwal kegiatan mereka, serta melobi para penerbit. Tidak hanya itu grup penulis juga didukung dengan sikap solid masing-masing anggota untuk mempertahankan grupnya, meskipun setiap orang memiliki karya sendiri. Jadi saya bisa katakan itu adalah grup sebenarnya. Lantas bagaimana dengan grup penulis yang ada di Indonesia?

Saya rasa masih sangat jauh dari harapan, karena grup penulis di Indonesia hanya bersifat proyek semata. Kalau proyek habis ya bubar..., sudah hanya segitu saja tidak lebih tidak kurang. Berbeda dengan grup band yang bisa solid dan bertahan bertahun-tahun. Ini juga yang menjadi tugas berat bagi kita para penulis untuk bisa membuat sebuah grup yang solid dan tidak hanya mengandalkan ego semata. Doakan grup penulis saya berhasil ya...

Salam Inspirasi

Irawan Senda

Senin, Oktober 20, 2008

Ghost Writer


Tukul Arwana, Vagetoz, Tung Desem Waringin, Hermawan Kartajaya, Bob Sadino, mereka adalah nama-nama terkenal yang tidak asing di telinga kita. Terlebih ketika mereka menelurkan buku, maka banyak yang berpikir mereka adalah para penulis yang hebat dan handal. Dengan yakinnya mereka bilang saya adalah penulis, padahal keotentikan itu tidak bisa dipertanggungjawabkan sepenuhnya. Sebab banyak dari nama-nama besar dari penulis terkenal yang bergelut di buku non fiksi adalah orang-orang yang tidak bisa menulis. Mereka menggunakan bahasa verbal yang direkam dalam sebuah tape untuk nantinya ditulis dalam sebuah buku. Ada lagi yang menggunakan metode wawancara tertulis untuk nantinya tulisan tersebut dijadikan sebuah tulisan. Yang menjadi pertanyaan siapa yang menulis itu semua?
Nah untuk mangetahui itu semua saya ingin bertanya pada anda semua tentang istilah ”Ghost Writer” alias penulis bayangan. Profesi ini banyak dijadikan lahan bagi para penulis untuk sekedar menyambung hidup. Bayarannyapun tidak tanggung-tanggung…. Para nama terkenal tersebut bisa membayar Ghost Writer puluhan juta rupiah hanya untuk membuat sebuah buku. Ini adalah profesi yang tidak main-main dan tidak mudah bagi seorang yang ingin sekali hidup menjadi penulis. Karena hidup mengandalkan royalty saja tidak cukup untuk menghidupi diri sendiri jikalau kita bukanlah penulis terkenal…
Ghost Writer adalah jawaban bagi seorang yang mempunyai waktu super padat untuk menjadi penulis buku. Dengan bantuan ghost writer, para nama-nama besar bisa menjadi sukses dalam penjualan bukunya hanya karena ia mampu membayar seseorang untuk membuatkannya buku. Jadi bisa dikatakan hasil karya mereka tidak murni seratus persen dari penulisan mereka. Memang hal ini tidak salah dan dibenarkan saja, lha wong pemikirannya juga dari dia juga.
Namun ini menjadi masalah jikalau para nama-nama besar tersebut tidak pernah mau mencoba menulis karya mereka sendiri. Karena kualitas tulisan mereka sebenarnya menjadi diragukan, apalagi keotentikannya. Bagi saya secara pribadi, hal tersebut sebenarnya tidak memberikan kepuasan bathin dalam menulis, meski kita sendiri yang memiliki ide. Saya berkata seperti ini karena menulis adalah sebuah seni merangkai kata yang indah, bukan sekedar tulisan semata, sebab buat apa kita mempunyai buku tetapi kita tidak paham cara menulis buku tersebut atau bagaimana prosesnya.
Meski begitu ada sisi positif yang tidak bisa dilewatkan saja. Adanya Ghost Writer memungkinkan kita yang benar-benar penulis semain terasah dalam penulisan, sehingga menulis untuk mereka seperti warming up untuk menulis karya sendiri, meski ada juga yang kebablasan (he..he..he..). Saya yakin ke depan trend ini akan semakin luas dan lagi-lagi yang diuntungkan kita-kita yang jadi penulis-makanya jadi penulis donk sobat-he…he…he….
Salam Inspirasi

Irawan Senda

Inspirasi dari Napoleon Hill


Apabila anda berpikir kalah, maka akan kalah
Apabila anda berpikir tidak berani, maka tidak akan berani
Apabila anda ingin menang tapi tidak merasa yakin, boleh dikatakan anda tidak akan menang
Apabila anda berpikir untuk rugi, anda telah rugi
Karena di dunia kita temukan sukses dimulai dari segalanya dalam pikiran
Apabila anda menganggap diri anda unggul, maka anda akan menjadi unggul
Anda harus bercita-cita tinggi untuk bangkit, anda harus merasa yakin terhadap diri sendiri sebelum anda dapat menenangkan suatu hadiah
Perjuangan hidup tidaklah senantiasa memihak pada yang lebih kuat atau yang lebih cepat
Tapi cepat atau lambar sang pemenang adalah orang yang berpikir dia pasti menang
***
Sobat pembaca blog, terkadang kita ingin sekali berhasil dalam sebuah pekerjaan, namun anehnya keberhasilan tidak kunjung datang, malah kegagalan yang menyapa kita dengan hangat. Aneh namun itu banyak sekali terjadi di sekitar kita dan bila kita mau runut penyebab utamanya adalah ketidakyakinan kita dalam melakukan pekerjaan tersebut.
Ketidakyakinan seperti cara kita membentuk dinding penghalang rezeqi untuk kita. Bukankah Sang Khalik pernah berkata Aku adalah apa yang hambaku pikirkan, maka wajarlah jika kita memikirkan tidak berhasil maka hasilnya tidak berhasil. Jika Napoleon Hill saja selalu mengkondisikan kesuksesan pada dirinya lantas mengapa kita tidak mencoba memikirkan hal terbaik untuk diri kita sendiri?
Dengan memulai berpikir positif kita memungkinkan peluang-peluang keberhasilan hinggap pada kita, karena Sang Khalik juga menganggap kita siap menerima apa yang kita pikirkan. So berpikir positif terus sobat, agar kita bisa mendapatkan keberhasilan seperti yang kita harapkan.

Salam Inspirasi

Irawan Senda

Kamis, Oktober 16, 2008

Interview dengan Majalah An Nida


Rabu 15 Oktober kemarin saya di interview oleh majalah An Nida. Alhamdulillah semua pertanyaan terjawab dengan baik dan cepat. Sebuah pengalaman unik menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh wartawan tersebut. Karena pertanyaan diajukan via email dan jawaban yang dibutuhkan cukup banyak.
Berbeda dengan wawancara yang pernah saya rasakan, wawancara dengan An Nida seperti seorang yang diberi sebuah test. Beberapa pertanyaan serasa menantang pemikiran saya untuk berpikir lebih banyak menjawab pertanyaan tersebut. Sungguh wawancara unik dan penuh kesan.
Bagi teman-teman pembaca blog yang penasaran dengan isi wawancara, jangan lewatkan An Nida edisi November ya…

Salam Inspirasi

Irawan Senda

Selasa, Oktober 14, 2008

Plagiat dalam dunia tulis menulis


Hari ini saya banyak berbincang dengan seorang rekan sesama penulis. Namun kali ini penulis yang bersama saya adalah penulis skenario. Ia sangat menyukai menulis skenario pasca menang lomba cerpen yang jurinya adalah Putu Wijaya. Ia memenangkan dua predikat sekaligus dalam satu perlombaan. Karya pertama mendapat juara tiga dan karya kedua mendapatkan harapan ke tiga (peringkat enam), sungguh pengalaman yang luar biasa yang tidak pernah bisa dilupakan. Hal ini karena ia adalah satu-satunya pemenang dari lomba tersebut, sementara lawan-lawan yang dijatuhkannya adalah pria-pria yang notabene sudah malang melintang di dunia penulisan. Sungguh sebuah pengalaman menarik yang diceritakan dengan semangat olehnya. Dari matanya terpancar sebuah kebahagiaan yang sangat besar ketika mengingat kembali masa-masa indahnya.
Cerita ini tidak berhenti sampai di situ saja. Ia kemudian menceritakan sebuah pengalaman yang kurang mengenakkan dalam dunia tulis menulis, terutama ketika ia berhasil menyelesaikan penulisan skenario untuk sebuah film horror yang terkenal di tanah air. Saat itu karyanya di taruh di sebuah production house yang biasa menangani film. Hingga akhirnya ia dipanggil oleh produser untuk di interview tentang penulisan skenario yang telah ia buat. Mereka sungguh terkesima dengan kinerja dari teman saya ini, hingga sang produserpun menjanjikannya uang tiga juta rupiah untuk membeli naskah tersebut. Perasaan ini membuat ia senang bukan kepalang sehingga pikirannya menerawang untuk membelanjakan uang tersebut bila naskahnya terpakai di film.
Minggu, demi minggu dilewati tanpa ada kabar, hingga tahun berganti, ia dikejutkan oleh sebuah ucapan selamat dari rekan-rekannya karena skenario yang dibuatnya telah di filmkan dan meraih penonton yang cukup banyak. Rekan saya ini terbelalak seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ternyata naskah skenarionya dipakai oleh film tersebut tanpa konfirmasi darinya.
Saat itu ia bereaksi cepat mengangkat gagang telephone dan bertanya pada produser tersebut. Produser tersebut seolah tidak tahu menahu tentang apa yang dialaminya, bahkan terkesan tidak peduli dengan masalah ini. Mendengar jawaban dari sang produser, ia menjadi kecewa dan terguncang, bahkan sempat membuat nafsu makannya hilang. Akhirnya dengan berat hati ia ikhlaskan apa yang telah terjadi pada dirinya. Sungguh pengalaman pahit ini menjadi pelajaran berharga yang tidak bisa terlupakan begitu saja untuk dirinya….
***
Sobat pembaca blog, dunia penulisan saat ini tidak lekang dengan prilaku-prilaku jahat para oknum. Tidak hanya di dunia penebangan kayu saja ada kejadian seperti ini, dunia penulisanpun menjadi sasaran empuk untuk melakukan kejahatan. Maka dengan adanya cerita ini saya ingin mengajak sobat pembaca untuk lebih berhati-hati lagi dalam menyerahkan tulisan terutama tulisan kepada sebuah penerbit, berikut adalah tips berharga agar anda terhindar dari kejadian tidak mengenakan ini :
1. Jangan pernah mengirim karya sebelum mensurvei. Kebiasaan saya pribadi sebelum menaruh karya di penerbit adalah survei terlebih dahulu. Dengan mensurvei kita bisa lebih mengenal orang yang akan kita ajak kerjasama untuk menerbitkan karya kita.
2. Jangan pernah mengirim karya via email. Nah bagi anda penulis novel yang terpisah oleh jarak dan waktu, jangan pernah terpancing untuk mengirimkan karya kita kepada penerbit, apalagi penerbit itu masih penerbit kecil. Usahakan mengirimnya dalam bentuk hard copy sehingga kemungkinan orang lain membajak menjadi berkurang.
3. Jangan pernah menceritakan karya anda kepada orang yang belum dikenal. Karena kalau anda menceritakan karya anda pada orang yang tidak dikenal bisa jadi ide kita akan dibajak habis-habisan.
4. Simpan ide dalam medium yang tepat dan bisa dipertanggung jawabkan. Jangan pernah menyimpan karya terbaik kita di blog. Karena mereka bisa saja mencuri ide kita dan menjualnya ke penerbit lain. Setidaknya itu pernah dirasakan oleh teman saya yang biasa menulis idenya di novel.
5. Las but not least mintalah tanda terima setiap kita mengirim karya. Dengan begini kita punya bukti kalau karya kita pernah dikirim ke penerbit tersebut.
Itulah tips-tips singkat agar kita terhindar dari penipuan, semoga bermanfaat….

Salam Inspirasi

Irawan Senda

Ada harapan baru dari setiap kegagalan.



Hari ini satu dari lima karya saya, ditolak oleh penerbit Hikmah. Kata mereka karya saya layak diterbitkan namun trend pasar tidak mengarah pada buku yang anda buat, jadi buku anda tidak bisa di publish oleh penerbit kami.
Hmm mendengar perkataan ini saya tidak merasakan apapun, kecewa juga tidak. Namun ini adalah peluang saya untuk bisa lebih baik lagi dalam membuat karya. Kritikan seperti ini membuat saya jadi terpacu untuk membuat karya yang sesuai baik dan sesuai dengan standar penerbitan saat ini. Tidak hanya itu saya malah banyak bertanya tentang trend pasar saat ini serta tentang kualitas dari penulisan. Tak disangka ternyata mereka sebenarnya suka dengan cara menulis saya, kata mereka tulisan saya komunikatif dan bisa membuat pembaca dan penulis merasa dekat satu sama lain. Tidak hanya itu ternyata mereka mau bekerjasama dengan bila ada proyek pembuatan buku yang bersifat magazine book dan buku-buku yang membutuhkan ghost writer. Mendengar kesempatan ini membuat saya yakin selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa dan kejadian.
Bila saya pergi dengan perasaan dongkol dan tergesa-gesa meninggalkan penerbit itu saya tidak mungkin mendapatkan peluang-peluang berharga seperti ini. Disamping itu saya juga tidak mendapatkan informasi berharga tentang perkembangan trend penulisan. Nah kalau sudah begini saya pasti tidak akan mendapatkan apapun dari peristiwa tersebut. Peristiwa ini juga membuat saya lebih semangat lagi dalam dunia tulis menulis. So bagi sobat pembaca blog yang sudah menulis buku terus di tolak sama penerbit, jangan patah semangat ya…. Tanya apa saja kekurangan kita dalam menulis, karena bisa jadi penolakan tersebut sebenarnya bukan didasarkan karya kita buruk atau kita tidak bisa menulis namun bisa jadi seperti saya yang tidak sesuai dengan trend pasar atau tidak sesuai dengan visi dan misi penerbit. Kalau sudah begini jangan putus harapan, datang saja ke penerbit lain yang memiliki satu pemikiran dengan karya kita atau alternative kedua me-make over-kan karya kita hingga menjadi sebuah buku yang baik.
Jadi jangan putus semangat, selalu ada harapan baru dalam setiap kegagalan. Dan selalu ada peluang dari setiap kejadian…

Salam Inspirasi

Irawan Senda